Hukum Menjual Alat Kecantikan Dan Tata Rias

Masing-masing suami-istri harus berhias diri untuk pasangannya demi menjaga rasa cinta dan menguatkan hubungan di antara keduanya, akan tetapi tetap dalam batas yang dibolehkan oleh syariat Islam. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a., disebutkan, “Allah melaknat wanita pembuat tato dan orang yang meminta dibuatkan tato, wanita yang menghilangkan bulu wajah, dan alisnya atau wanita yang meminta bulu itu dihilangkan, wanita yang merenggangkan giginya untuk mempercantik diri, dan wanita yang mengubah ciptaan Allah.” Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Apakah aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat Rasulullah s.a.w. padahal hal itu tercatat dalam Kitab Allah s.w.t.?” Yaitu dalam firman-Nya,

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Sebab itu, diharamkan bagi seorang wanita memakai wig, meski hal itu ia gunakan untuk menghias diri di depan suaminya, karena perbuatan ini menyerupai orang-orang kafir. Nabi s.a.w. telah melarangnya dengan sabda beliau, “Siapa yang ingin menyerupai kelakuan satu kaum maka ia termasuk golongan kaum itu.”

Hukum Wig (Rambut Palsu)

Di samping itu, hukum wig termasuk ke dalam hukum praktek menyambung rambut. Rasulullah telah melarang hal itu bahkan melaknat pelakunya. Beberapa wanita terbiasa melukis alisnya dengan terlebih dahulu mencabutnya. Para ulama telah menjelaskan bahwa, mencabut bulu alis termasuk praktek namsh yang terkandung dalam hadis. Menurut mereka, tidak diperbolehkan mencabut bulu alis atau mengurangi sebagiannya, berdasarkan hadis yang berbunyi, “Rasulullah s.a.w. melaknat wanita yang mencabuti bulu wajah dan alisnya serta wanita yang meminta dicabutkan bulu-bulu itu.”

Sebagian wanita lainnya terbiasa memanjangkan kukunya dan mengecatnya dengan cat kuku (manicure). Diriwayatkan dari Nabi s.a.w., beliau bersabda, “Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” Kelima hal tadi tidak boleh ditinggalkan selama lebih dari empat puluh hari tanpa dilakukan. Karena seperti yarng diriwayatkan dari Anas r.a., “Rasulullah menentukan waktu bagi kita untuk memotong kumis dan memotong kuku, mencabuut hulu ketiak dan memotong rambut kemaluan agar kita tidak meninggalkannya lebih dari empat puluh malam.

Di samping itu, karena memanjangkan semuanya itu merupakan sikap tak ubahnya seperti binatang dan orang-orang kafir. Adapun cat kuku, maka meninggalkan hal ini lebih utama. Jika terlanjur memakainya maka cat kuku tersebut harus segera dihilangkan saat wudhu, karena ia bisa menghalangi sampainya air ke anggota wudhu (kuku)” Diharamkan juga bagi wanita untuk mengubah rambutnya dengan warna hitam pekat, karena Rasulullah s.a.w. melarang melakukan hal itu. Adapun mengecat’ rambut dengan warna kuning atau kemerahan, atau juga warna antara merah dan hitam maka hal ini tidak apa-apa, bahkan dianjurkan. Pendapat ini dilandaskan pada sabda Rasulullah s.a.w, “Ubahlah warna uban ini, hindari warna hitam.”

Pergi Ke Salon

Wanita juga tidak boleh pergi ke tempat salon potong rambut yang pekerjanya dari kalangan pria bukan mahram, kendati hanyà untuk menata rambutnya. Tata rambut wanita adalah urusan wanita. Pria yang bukan mahramnya tidak boleh dilibatkan, karena
akan mengundang fitnah dan membuka aurat.

Di samping itu, hal ini juga akan menjadi wasîlah kepada hal-hal yang akibatnya tidak terpuji. Wanita juga dibolehkan untuk berhias dengan menggunakan sifat mata (kuhl), pewarna, pemerah bibir, atau penguning, asal tidak membahayakan tubuhnya. Ia juga boleh memakai krim yang tidak menghalangi air ke kulit. Selain itu, ia juga boleh menggunakan wangi-wangian selama ia merasa aman jika berlalu di hadapan pria asing.

Dihalalkan juga bagi wanita mengenakan perhiasan dari emas, baik berupa kalung atau lainnya, berdasarkan keumuman dalil dalam firman Allah s.w.t.,

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran?(QS. Az-Zukhruf: 18).

Diriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib r.a., bahwa Nabi s.a.w. mengambil sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, kemudian beliau bersabda, “Dua benda ini haram bagi laki-laki dari umatku.” Dalam riwayatnya, Ibnu Majah menambahkan, “Dan halal bagi wanitanya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dengan sanad yang baik).

Dalam al-Majmû’ (4/443) Imam Nawawi berkata, “Dibolehkan bagi wanita mengenakan sutera dan perhiasan perak dan emas berdasarkan ijmâ’ dan hadis-hadis sahih.” la juga berkata (6/40), “Kaum Muslimin sepakat bahwa wanita dibolehkan mengenakan berbagai jenis perhiasan dari perak dan emas, seperti anting, kalung, cincin, gelang, dan semua yang dikenakan di leher, di sini tak ada pertentangan di kalangan mereka.” Terakhir, halalnya jual beli satu barang berarti halalnya penggunaan barang itu. Perhiasan yang dihalalkan penggunaannya, seperti emas, sutera, kuhl, dan pewarna, berarti dibolehkan juga membeli dan menjualnya. Sementara perhiasan yang diharamkan seperti wig dan lainnya serta barang yang kita ketahui bahwa penggunaannya haram, maka haram juga hukumnya diperjualbelikan.

#Tag

hukum merawat wajah dalam islam, hukum memakai skincare dalam islam, hukum merawat diri dalam islam, hukum memakai, masker wajah dalam islam, cantik yang dilarang dalam islam, hukum laki-laki perawatan wajah, cara memutihkan kulit menurut islam, cantik yang diperbolehkan dalam islam

Tinggalkan Balasan